Selasa, 19 Maret 2013


ANALISIS POSISI LIKUIDITAS


A.   Pengertian Likuiditas

Dalam   terminologi   keuangan   dan   perbankan   terdapat   banyak   pengertian mengenai likuiditas, beberapa diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut :
“Likuiditas  adalah  kemampuan  bank  untuk  memenuhi  kemungkinan  ditariknya deposito/ simpanan oleh deposan/ penitip”. Dengan kata lain, menurut definisi ini,
suatu bank dikatakan likuid apabila dapat memenuhi kewajiban penarikan uang dari
pada penitip dana maupun dari para peminjam/ denitur.
“Likuiditas   adalah   kemampuan   bank   untuk   memenuhi   kewajiban   hutang- hutanya,  dapat  membayar  kembali  semua  deposannya,  serta  dapat  memenuhi
permintaan kredit yang diajukan para debitur tanpa terjadi penangguhan.”
Menurut pengertian ini bank dikatakan likuid apabila :
1. Bank  tersebut  memiliki  cash  assets  sebesar  kebutuhan  yang  akan  digunakan untuk memenuhi likuiditasnya;
2. Bank  tersebut  memiliki  cash  assets  yang  lebih  kecil  dari  yang  tersebut  diatas, tetapi  yang  bersangkutan  juga  memiliki  asset  lainnya  (khususnya  surat-surat
berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya;
3. Bank  tersebut  mempunyai  kemampuan  untuk  menciptakan  cash  assets  baru melalui berbagai bentuk hutang.

Dalam  terminologi  yang  hampir  sama,  dapat  disebutkan  bahwa  “likuiditas  adalah kemampuan  bank  untuk  menyediakan  saldo  kas  dan  saldo  harta  likud  yang  lain untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, khususnya uintuk :
1. Menutup jumlah reserves required;
2. Membayar chek, giro berbunga, tabungan dan deposito berjangka milik  nasabah yang diuangkan kembali;
3. Menyediakan   dana   kredit   yang   diminta   calon   debitur   sehat,   sebagai   bukti bahwa  mereka  tidak  menyimpang  dari  kegiatan  utama  bank  yaitu  pemberian
kredit;
4. Menutup berbagai macam kewajiban segera lainnya;
5. Menutup kebutuhan biaya operasional perusahaan.

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan secara singkat  bahwa  likuiditas  adalah  kemampuan  suatu  bank  atau  suatu  perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya.
Secara  praktis,  likuiditas  suatu  bank  sering  dikaitkan  dengan  jumlah  dana pihak  ketiga  yang  terdapat  di  bank  tersebut  pada  waktu  tertentu.  Dalam  hal  ini, untuk  kondisi  indonesia,  Pemerintah  melalui  Bank  Sentral  menetapkan  kewajiban setiap bank untuk memelihara likuiditas wajib minimum sebesar 5% dari besarnya kewajiban terhadap pihak ketiga. Dalam hal ini, kewajiban kepada pihak ketiga.

B. Jenis dan Sumber Alat Likuid

Menurut  terminologi  yang  berlaku  umum  dalam  dunia  perbankan,  dapat disebutkan bahwa jenis-jenis alat likuid yang dimiliki oleh bank adalah :
1. Kas   atau   uang   tunai   (kertas   dan   logam)   yang   tersimpan   dalam   brankas
(khasanah) bank tersebut;
2. Saldo dana milik bank tersebut yang terdapat pada Bank Sentral (Saldo Giro BI);
3. Tagihan atau deposito pada bank lain, termasuk bank koresponden;
4. Chek  yang  diterima,  tetapi masih  dalam  proses  penguangan  pada  Bank  Sentral dan bank korespoden.
Dalam  dunia  perbankan,  keempat  jenis  alat/  harta  likuid  tersebut  sering  disebut
“posisi uang” (money position) bank yang bersangkutan pada saat tertentu.

Adapun  menurut  sumbernya,  suatu  bank  dapat  memperoleh  alat-alat  likuid yang diperlukan tersebut diatas dari berbagai sumber, yaitu :

1.   Asset bank yang akan segera jatuh tempo :
Kredit pinjaman kepada debitur atau cicilan pinjaman yang akan jatuh tempo dapat dianggap sebagai sumber lukiditas. Oleh karena itu, dalam kondisi kebijakan uang ketat,  posisi  likuiditas  suatu  bank  akan  rawan  apabila  keseluruhan  portofolio kreditnya  masuk  kategori  evergreen.  Surat-surat  berharga,  instrumen  pasar  uang seperti  Bank  Acceptance,  Sertifikat  Bank  Indonesia,  dan  sertifikat  deposito  pada Bank  lain  yang  akan  segera  jatuh  tempo,  dapat  pula  dianggap  sebagai  sumber likuiditas dalam golongan ini.
2.   Pasar Uang
Pasar uang adalah sumber likuiditas bank. Namun harus diakui bahwa tidak setiap bank   mempunyai   kemampuan   untuk   masuk   ke   pasar   uang.   Hal   ini   sangat dipengaruhi   oleh   besarnya   suatu   bank   dan   persepsi   pasar   uang   atas  Credit Worthiness  bank tersebut. Dalam hal ini, para investor yang meminjamkan uangnya
ke bank akan melakukan analisa yang mendalam dan selektif terhadap tingkat dan konsistensi  perkembangan  pendapatan  bank,  kualitas  asset,  reputasi  kesehatan
manajemen, dan kekuatan modal bank.
3. Sindikasi kredit
Pembentukan  sindikasi  kredit,  selain  bertujuan  menyiasati  legal  lending  limit  (3L) dan  menyebarkan  risiko,  juga  bertujuan  untuk  menjalin  hubungan  dengan  bank- bank  lain.  Dengan  demikian,  ketika  mengalami  kesulitan  lukiditas  makan  bank
tersebut  dapat  menyidikasi  sebagian  portofolio  kreditnya  kepada  bank  lain  untuk
mengatasi masalah tersebut.
4. Cadangan lukuiditas
Khusunya  bank  yang  tidak  dapat  segera  memperoleh  dana  pada  saat  diperlukan, bank tersebut         biasanya  membentuk   cadangan   likuiditas.   Cadangan   likuiditas biasanya  dibentuk  dengan  cara  memelihara  saldo  Kas  dan  Giro  BI  pada  batas maksimal yang diperbolehkan.
5. Sumber dana yang sifatnya Last Resort
Salah satu sumber likuiditas yang sifatnya last resort, yang umum digunakan oleh kebanyakan bank adalah fasilitas line of credit dari bank lain. Bank yang menjalin hubungan koresponden dengan bank lain kemungkinan dapat meminta fasilitas stand by  line  of  credit  dari  bank  korespondennya  tersebut.  Selain  itu,  Bank  Sentral bertindak  sebagai  leader  of  last  resort  untuk  dunia  perbankan  atau  lembaga keuangan bukan bank. Namun bantuan dana dari bank sentral biasanya baru akan dimanfaatkan  oleh  bank  yang  kesulitan  likuiditas  apabila  sumber-sumber  likuiditas
lainnya tidak cukup untuk mengatasi kesulitan likuiditas yang dialaminya.



Secara    akuntansi    perbankan,    jenis-jenis    alat    likuid    dan    sasaran penggunaannya  untuk  memenuhi  kewajiban  pihak  ketiga  selalu  termuat  dalam laporan keuangan bank bersangkutan secara periodik, baik harian, bulanan maupun tahunan.
Jika  dilakukan  klasifikasi  jenis  alat  likuid  menurut  post  pembukuan  dalam necara,  alat  likuid  yang  dimasukkan  kedalam  pos-pos  tertentu  ini  adalah  saldo
masing-masing jenis alat likuid pada tanggal terakhir pada masa laporan likuiditas.
Dalam   hal  ini,   jenis  alat   likuid  dimasukkan  pada  pos-pos  aktiva,  sedangkan kewajiban-kewajiban  kepada  pihak  ketiga  yang  harus  ditutup  dengan  alat  likuid tersebut  dimasukkan  pada  pos-pos  pasiva.  Klasifikasi  masing-masing  pos  tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

I.   Aktiva
1. Kas, yang dimasukkan kedalam pos ini adalah uang kartal yang ada dalam     kas berupa uang kertas, uang logam dan commemorative coin yang dikeluarkan oleh
Bank   Sentral   (Bank   Indonesia)   menurut   nilai  nominal   dan   menjadi   alat
pembayaran yang sah di Indonesia.
2. Bank   Indonesia,   yaitu   semua   simpanan/tagihan   bank   bersangkutan   dalam
Rupiah kepada Bank Indonesia, seperti saldo giro BI dan lainnya.
3. Surat-surat  berharga  dan  tagihan  lainnya.  Yang  termasuk  golongan  ini   adalah surat-surat  berharga                  dalam       rupiah   yang     dibeli  atau    dimiliki            oleh   bank bersangkutan, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang
(SBPU),  Saham,  Obligasi  dan  bukti  tagihan  lainnya  yang  berlum  diuangkan, termasuk tagihan yang timbul karena akseptasi wesel dan penjualan SBPU.
4. Antar Bank Aktiva, yaitu semua jenis simpanan dan tagihan bank bersangkutan
kepada  Bank  atau  lembaga  keuangan  bukan  bank  (LKBB)  lainnya  di  Indonesia, seperti  Giro,  Call  Money,  surat  berharga,  deposit  on  call,  deposito  berjangka, sertifikat  deposito,  pinjaman  yang  diberikan,  pembiayaan  bersama,  penyertaan, dana pelunasan obligasi dan lain-lain.
5. Kredit  yang  diberikan,  yaitu  semua  realisasi  pemberian  pinjaman/  kredit  dalam rupiah yang diberikan oleh bank yang bersangkutan kepada pihak ketiga bukan
bank, termasuk pinjaman kepada pegawai bank itu sendiri. Termasuk dalam pos
ini adalah kartu kredit dan fasilitas cerukan (overdraft).

II.  Pasiva
1. Giro, yaitu simpanan-simpanan dalam rupiah oleh pihak ketiga bukan  bank, yang penarikannya  dapat  dilakukan  setiap  saat  dengan  menggunakan  cek,  surat perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindah bukuan.
2. Simpanan berjangka, yaitu simpanan dalam bentuk deposito berjangka, deposito
asuransi  dan  deposit  on  call  dalam  rupiah  pihak  ketiga  bukan  bank,  yang penarikannya   dapat   dilakukan   menurut   suatu   jangka   waktu   tertentu   yang disepakati.
3. Tabungan, yaitu simpanan dalam rupiah ketiga bukan bank, yang penarikannya hanya  dapat  dilakukan  menurut  syarat  dan  cara  tertentu,  misalnya  dengan
menggunakan buku tabungan, slip penarikan (bukan cek) dan kartu ATM.
4. Antar Bank Pasiva, yaitu semua jenis kewajiban bank bersangkutan dalam mata uang  rupiah  kepada  bank  atau  LKBB  lainnya,  seperti  giro,  call  money,  surat berharga,   deposit on      call,    deposito                berjangka,     pinjaman          yang           diterima, pembiayaan bersama dan lainnya.
5. Kewajiban lainnya yang segera jatuh tempo, yaitu semua kewajiban dalam rupiah yang  setiap  dapat  ditagih  oleh  pemiliknya  dan  harus  segera  dibayar,  misalnya
kiriman uang.




C.    Prinsip-prinsip Pengelolaan Likuiditas

Metode dan cara pengelolaan likuiditas yang diterapkan oleh masing-masing bank  secara  praktis  akan  saling  berbeda,  tergantung  kepada  metode  manajemen dana  yang  diterapkan  dan  garis  kebijakan  dalam  pengelolaan  likuiditas.  Namun demikian, terdapat kesamaan dalam prinsip-prinsip mendasar yang menjadi bingkai
(frame work) pengelolaan likuiditas.
Pengelolaan  likuiditas  harus  dilakukan  secara  hati-hati  dengan  memperhatikan prinsip-prinsip  yang  ada.  Oleh  karena  itu  dalam  pengelolaan  likuiditas  bank  perlu diperhatikan beberapa prinsip pengelolaan likuiditas yaitu :
1. Bank harus memiliki sumber dana inti (core source of fund) yang sesuai dengan dengan sifat bank yang bersangkutan maupun pasar uang dan sumber dana yang ada dimasyarakat, serta yang cocok pula dengan mekanisme pengumpulan dana yang berlaku ditempat bank tersebut berada.
2. Bank  harus  mengelola  sumber-sumber  dana  maupun  penempatan  dengan  hati- hati.  Oleh  karena  itu  harus  diperhatikan  komposisi  sumber  dana  jatuh  waktu berdasarkan jumlah masing-masing komposisi, tingkat suku bunga, faktor-faktor kesulitan  dalam  pengumpulan  dana,  produk-produk  dana  yang  dimiliki  dan sebagainya.
3. Bank   harus   diperhatikan   different   price   for   different   customer   didalam penempatan  dananya.  Dan  price  (tingkat  suku  bunga)  tersebut  harus  diatas tingkat  suku  bunga  dana  yang  dipakainya,  atau  dengan  kata  lain,  tingkat  suku bunga atas penempatan dana tersebut harus bersifat floating.
4. Bank harus menaruh perhatian terhadap umur sumber dananya kapan akan jatuh waktu, jangan sampai terjadi maturity gap dengan penempatannya (placement). Oleh  karena  itu  perlu  diperhatikan  prinsip  pemenuhan  kebutuhan  dana  yang sering menjadi acuan, yaitu :
a. Kebutuhan  dana  jangka  pendek  harus  dipenuhi  dengan  sumber-sumber  dana jangka pendek.
b. Kebutuhan  dana  jangka  panjang  harus  dipenuhi  dengan  sumber-sumber  dana
jangka panjang.
5. Bank harus waspada bahwa tingkat suku bunga dana tersebut selalu berfluktuasi, naik turun dengan gerak yang sukar ditebak sebelumnya (volatile). Oleh karena
itu, agar bank tidak kehilangan sumber dananya karena nasabah pindah ke bank
lain maka bank harus memiliki pricing policy yang baik, disamping harus

mempunyai marketing strategy yang minimal mencakup strategi dibidang :
a.   Product Quality;
b.   Product Placement;
c.   Promotion;
d.   Product Pricing;
e.   Power;
f.    Public Relation.

6. Bank  harus  secara  terkoordinasikan  apabila  akan  menanamkan  sumber-sumber dananya keaktiva. Sesuai ketentuan perbankan yang ada saat ini, ekspansi aktiva suatu bank akan dibatasi oleh faktor-faktor :
a.   Aktiva tertimbang menurut risiko (Risk Weighted Asset). b.         Capital Adequanty Ratio (CAR)
c.   Net Open Position (NOP)
d.   Loan to Deposit Ratio (LDR)
e.   Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) atau Legal Lending Limit.
f.    Persentase Kredit Usaha Kecil (KUK) harus lebih besar dari 20%.




D.  Tujuan dan Manfaat Pengelolaan Likuiditas.

Pengelolaan likuiditas merupakan faktor yang sangat penting dalam operasional perbankan, bahkan sangat menentukan bagi kemampuan suatu nak untuk bertahan dan  berkembang  dalam  persaingan  usaha  yang  makin  kompetitif.  Tujuan  dan manfaat dari pengelolaan likuiditas suatu bank secara garis besar adalah :
1.  Untuk menurunkan serendah mungkin biaya dana, hal ini dapat dilakukan dengan cara  memilih  komposisi  sumber  dana  yang  akan  memberikan  biaya  yang  paling
rendah. Beberapa alternatif yang tersedia adalah :
a. Dari  dari  dalam  negeri  versus  dana  luar  negeri,  atau  dana  rupiah  versus  dana valuta asing.
b. Dana-dana  jangka  pendek  versus  dana-dana  jangka  panjang,  atau  dana  dari pasar uang (money market) versus obligasi ataupun deposito jangka panjang.
c.  Dana  sendiri  (modal)  versus  dan  dari  pihak  ketiga,  atau  dana  dengan  ibaya
deviden versus dana dengan biaya bunga.
2.  Untuk  memenuhi  ketentuan  sumber  dana  yang  diperlukan  bank  di  dalam pemberian  kredit,  penanaman  dana  dalam  valuta  asing,  penanaman  dana  dalam
surat-surat  berharga,  dan  penanaman  dana  dalam  aktiva  tetap  maupun  untuk
memenuhi kebutuhan modal sehari-hari.
3.  Untuk   memenuhi   kebutuhan   bank   terhadap   ketentuan-ketentuan   otoritas moneter  (bank  sentral)  di  dalam  menjaga  likuiditas  minimum,  misalnya  untuk memenuhi legal reserve requirement, dan untuk memenuhi standar loan to deposit ratio yang sehat.

E.  Metode dan Pendekatan dalam Pengelolaan Likuiditas Bank.

Secara  umum,  metode  yang  digunakan  oleh  management  perbankan  dalam menetapkan  policy  likuiditasnya  berbeda  antara  suatu  bank  dengan  bank  lainnya, yang  sangat  dipengaruhi  oleh  pertimbangan  kehati-hatian  (prudential)  maupun tujuan pencapaian pendapatan optimal.
Pendekan  yang  dapat  ditempujh  oleh  management  bank  dalam  menetapkan policy likuiditasnya secara umum dapat dibagi menjadi lima pendekatan,                              yaitu :
1.  Self  liquiditing  approach.  Yaitu  pendekatan  peningkatan  likuiditas  bank  melalui peningkatan                   pembayaran   kembali   kredit   dan   penanaman   dalam   surat-sruat
berharga,  sesuai  dengan  tanggal  jatuh  temponya.  Dengan  cara  demikian  aktiva- aktiva  tersebut  dapat  digunakan  sebagai  alat  likuid,  khususnya  untuk  membiayai
permintaan kredit baru ataupun diinvestasikan kembali dalam surat-surat berharga.
2.  Asset Sale Ability atau Asset Shift Ability, yaitu meningkatkan likuiditas dengan cara  melakukan  likuidasi  (penjualan)  terhadap  asset-asset  lainnya  yang  tidak priduktif.
3.  New  Fund,  yaitu  meningkatkan  likuiditas  dengan  menciptakan  sumber-sumber dana  yang  baru,  baik  dari  masyarakat  maupun  dari  dunia  perbankan,  misalnya
menciptakan Traveller Check, Credit Card, deposito-deposito berjangka dan lain-lain.
4.  Borrowers Earning Flow, yaitu meningkatkan likuiditas melalui usaha yang lebih giat  dalam  menjaga  kelancaran  penerimaan  angsuran  dan  bunga  dari  kredit  yang diberikannya.
5.  Reserve  Discount  Window  to  Central  Bank  As  lender  of  Last  Resort,  yaitu meningkatkan  likuiditas  dengan  jalan  mengadakan  pinjaman  kepada  Bank  Sentral sebagai pemberi pinjaman yang terakhir.

Sebelum  menentukan  pilihan  tentang  pendekatan  mana  yang  akan  ditempun dlama  kebijakan  likuiditas  suatu  bank,  managemen  bank  sebaiknya  melakukan





analisis yang dikenal dengan istilah A Three Step Liquidity Planning and Analysis
System, sebagai berikut :
1. Langkah  pertama   klasifikasi  leabilities  dan  Capital  apakah  tergolong  sebagai sumber     dana   yang             Reliable        (dapat    diandalkan)               ataukah   Volatile   (mudah
menguap).
2. Langkah kedua Klasifikasikan assets apakah sebagai alat yang likuid atau tidak likuid.
3. Langkah  ketiga   bandingkan  volume  asset  likuid  dengan  volume  dan  yang volatile. Perbandingan maksimum adalah 1,0 karena pada posisi ini akan dicapai
apa  yang  disebut  balance  liquidity  position,  yaitu  keadaan  dimana  permintaan alat-alat likuid sama besarnya dengan alat likuid yang tersedia pada bank.

F.  Alat-Alat Pengukuran Likuiditas

Secara  akuntansi  keuangan  atau  perbankan,  perhitungan  atau  pengukuran likuiditas dapat dilakukan melalui perhitungan ratio yang menggambarkan hubungan timbal balik antara asset dengan liabilities. Adapun rumus-rumus perhitungan ratio likuiditas yang sering dipergunakan adalah sebagai berikut :
Cash Asset
1. Quick Ratio = -------------------- Total Deposit

Ratio  ini  menunjukkan  kemampuan  bank  untuk  membayar  kembali  simpanan para  nasabahnya  dengan  alat-alat  yang  paling  likuid  yang  dimiliki  bank  tersebut. Ratio ini sering disebut sebagai Quick Ratios.
Dalam persamaan di atas, Cash asset terdiri dari Kas, Giro Bank Indonesia, dan Rekening pada bank lain, sedangkan Total Deposit meliputi Demand deposit (Giro), Time deposit (Deposito/simpanan berjanka), dan Saving deposit (tabungan).

Securities
2. Investing Policy Ratio  = ----------------- Total Deposit

Ratio ini menunjukkan kemampuan bank dalam melunasi kewajiban kepada para nasabahnya dengan melikuidasi/menjual surat-surat berharga yang dimilikinya.

Total Loans
3. Banking Ratio = -------------------- Total Deposit

Banking Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan bank untuk membiayai pemberian    pinjaman                 dengan      menggunakan                dana   yang   dihimpun   dari   para nasabah/pihak ketiga.

Liquidity Assets
4. Cash Ratio = ----------------------------- Short term borrowing

Cash ratio adalah ratio yang menunjukkan kemampuan bank untui melunasi kewajiban-kewajiban   yang   harus   segera   dibayar   dengan   alat-alat   likuid   yang dimilikinya.







DAFTAR PUSTAKA


Julius  R.  Latumaerissa,  Mengenal  Aspek-aspek  Operasi  Bank  Umum,  Penerbit
Bumi Aksara, Jakarta 1999.

Mucdarsyah  Sinungan,  Manajemen  Dana  Bank,  Penerbit  Bumi  Aksara  Jakarta,
1993.

Siswanto Sutojo, Manajemen Terapan Bank, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta
1997.

Teguh  Pujo  Muljono,  Analisa  Laporan  Keuangan  Untuk  Perbankan,  Penerbit
Djambatan, Jakarta, 1999.

_______________, Bank Budgeting : Profit Planning and Control, BPFE- UGM Yogyakarta, 1996.

_______________, Aplikasi Akuntansi Manajemen Dalam Praktik Perbankan,
BPFE- UGM, Yogyakarta, 1988.

Wood G. Oliver Jr, Analysis of Financial Statements, (Terjemahan) Suad Husnan
Penerbit Liberty, Jogyakarta, 1994.





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar